Malam in
i gerah rasa rasanya memuncak meskipun tadi siang kamar ini sudah dipasang AC. Melihat istriku yang mondar mandir karena ukuran perutnya yang kian hari kian membesar dan menimbulkan rasa sakit karena mendekati hari persalinan, aku yang biasanya tidur nyenyak tanpa buatan merasa kasihan. semalaman Pitra mendongeng dan ngobrol dengan jabang bayi yang ada di dalam perutnya. Dan Malam pun kian larut. “Kiddo, Kiddo….nanti bantu bunda ya nak, lahirnya jangan sulit”, kira-kira seperti itulah kalimat yang semalaman diucapkan oleh istriku. Sebagi lelaki, jujur aku sangat terharu mendengarkan nyanyian seorang ibu yang dengan tulusnya berkomunikasi dan melupakan tidur nyenyaknya. Sungguh perjuangan yang tiada bandingannya detik-detik mendekati kelahiran. Aku sendiri jadi teringat ibuku. Bagaimana rasanya mengandung 9 bulan dan sulirnya melahirkan. Apalagi saat itu hanya ada dukun beranak alias bidan tradisional yang membantu persalinannya.
Proses kehamilan yang dirasakan oleh istriku ini berbeda, karena aku yang bertugas menunaikan kewajiban sebagai suami harus merantau di pulau lain beratus-ratus km jauhnya. Makin berat tentunya yang dirasakan oleh istriku.
Kembali ke cerita semula. Semalaman itu berjalan lambat sekali, seolah waktu tiada bergulir. Detik demi detik hanya nyayian seorang ibu yang kudengar. Kubangun, kugandeng dan ku berusaha memijit punggungnya sambil berharap dapat meredakan sedikit rasa sakitnya. Walaupun mungkin tidak seberapa membantu. Keesokan paginya kami bersama menuju Happyland di Timoho, rumah sakit bersalin yang sudah sering istriku kunjungi mengikuti senam hamil. Begitu masuk ke dalam bilik persalinan, aku menanti deg-deg an layaknya seorang ayah yang sedang menyiapkan jiwa dan raga menyambut tangis pertama dari anak pertamaku. Sedetik berlalu menjadi semenit. Semenit berlalu menjadi sepuluh menit, dan berpuluh-puluh menit pun berlalu. Setelah menanti beberapa puluh menit, akhirnya keluar juga istriku dengan wajah cerah. Ternyata pagi itu belum saatnya si jabang bayi keluar. Kamipun pulang dan istriku berkali-kali mengatakan malu harus pulang lagi kerumah.
Berulang kali dirumah ternyata istriku tidak bisa istirahat. Sakit di perutnya semakin hebat dirasakan. Tetangga semakin banyak di rumah. Dengan segala bujuk rayu, kamipun menuju rumah sakit yang sama dengan yang tadi pagi kami datangi. Setelah masuk ke ruang bersalin dan berita bahagia dikabarkan oleh perawat bahwa jabang bayi akan segera keluar malam ini. Saya bahagia sekali. Selama berada disamping istri saya, saya merasa bangga bisa mendampingi proses persalinannya. Sejatinya saya tidak tega melihat perjuangan istri ketika akan melahirkan, namun saya harus tetap berada di sampingnya untuk menambah semangatnya. Dengan setia setiap kali ingin minum saya yang pertama mengambilkan teh yang sudah dibuatkan oleh perawat malam ini. Sesekali terdengar rintihan rasa sakit, dan kadang teriakan kecil diruang bersalin Waterbirth yang kami pilih. Sungguh perjuangan yang sangat luar biasa beratnya melahirkan itu ternyata.
Sakit yang tak terkira, dan bisa jadi nyawa taruhannya adalah usaha seorang ibu untuk bisa mengeluarkan si jabang bayi. Seandainya rasa sakit itu bisa dibagi, aku akan memilihnya untuk membagi rasa sakit itu. Dan mungkin saya tidak akan kuat menanggungnya. Sunguh luar biasa kau istriku, Pitra Despina. Dengan segenap daya upaya, darah yang bercecer-cecer, peluh yang seperti air mandi, dan nyawa yang dipertaruhkan, akhirnya pukul 01.28 tertanggal 14 Februari 2012 putera pertama kami lahir dengan berat 2.75 kg, dan panjang 48 cm. Saya terharu, istri saya menangis ketika pertama kali bersentuhan dan mendekap bayi dalam pelukannya. Saya telah mejandi ayah. Amazing…..!!!
Terima kasih Allah, telah menitipkan amanah ini kepada kami, kami mohon ridhomu agar mampu mendidiknys menjadi pemuda yang kuat dan selalu menegakkan agamaMu, patuh pada orang tua dan paling banyak bermanfaat untuk sesamanya.
Setelah perundingan dengan istriku, keesokan harinya kami menyepakati putera kami dengan nama Abimanyi Arkana Riyanto.
Abimanyu = Kesembuhan, tidak takut kesulitan dan salah satu tokoh pewayangan anak dari Arjuna dan Sembadra dari bahasa Jawa.
Arkana = berhati terang dalam bahasa Arab Arkan.
Riyanto = merupakan nama belakang saya, Sigit Riyanto.
Terima kasih istriku, Pitra Despina. aku telah menjadi seorang ayah # ditulis di ruang tunggu bandara Balikpapan, saat pertama kali berpisah dengan buah hati Abi.
NB: Abi anakku, saat kau baca tulisan ini, ingatlah bagaimana bundamu mempertaruhkan nyawanya agar kau bisa keluar. Patuh dan menurutlah pada bunda dan ayah. kami sangat menyayangimu, nak.
-7.755148
110.361522